Jumlah Siswa PKBM CAHYA INSANI Dipertanyakan

Februari 06, 2026

 


Kuningan-SKANDAL

PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) adalah satuan pendidikan nonformal yang dikelola oleh masyarakat untuk menyediakan layanan pendidikan kesetaraan (Paket A/B/C), pelatihan keterampilan, dan kursus. Wadah ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kualitas hidup masyarakat, terutama yang tidak terjangkau pendidikan formal, di bawah pengawasan Dinas Pendidikan. 

Tujuan Utama: Memberikan kesempatan belajar sepanjang hayat, meningkatkan kemampuan diri, serta mendukung kemandirian ekonomi dan sosial masyarakat melalui program nonformal.

Kenyataan di lapangan, PKBM seperti tumbuh menjamur. Seolah didirikan lembaga non formal tersebut untuk bisnis. Banyak Temuan di lapangan beberapa PKBM yang jumlah siswanya tidak sesuai dengan kenyataan.

Salah satu contoh, PKBM CAHYA INSANI, yang tercatat beralamat di Dusun Manis RT 005/001, Desa Cikubangsari, Kec. Kramatmulya, Kab. Kuningan, Jawa Barat, sementara Kegiatan Belajar Mengajarnya mengaku di salah satu Pontren di Cikaso.

Dalam SK Mentri Pendidikan Dasar Dan Menengah PKBM CAHYA INSANI untuk tahun 2025 - 2026 tercatat jumlah siswa Pakét B 43 dan Paket C 32. Anehnya, salah seorang pengurus PKBM CAHYA INSANI, saat dihubungi melalui telpon selulernya mengakui siswa tersebut 155 siswa.

Lalu manakah yang benar? Apakah jumlah siswa yang tertulis dalam SK penerimaan BPP atau pengakuan salah seorang pengurus tersebut?


Bersambung..


(Yanuar)

Ironis, Dana Bansos Warga Kedungarum Raib

Januari 06, 2026

 


Kuningan-Skandal

Nuraeni, Warga RT 13 RW 04, Dusun Cikole kaget dan sedih. Pasalnya Dana Bansos yang seharusnya dia terima malah raib.

Nuraeni mengaku kalau dirinya tidak lagi menerima pencairan dana bansos sejak 1 November 2025, pdahal dalam rekening tercatat adanya mutasi dana masuk.

Keluarga yang mendampingi Nuraeni menjelaskan, setelah tidak menerima bantuan selama beberapa bulan, keluarga berinisiatif melakukan pengecekan rekening koran di Bank BNI, selaku bank penyalur bantuan sosial.

“Setelah rekening koran dicetak di Bank BNI, ternyata ada beberapa kali mutasi dana masuk. Namun kenyataannya, dana tersebut tidak pernah bisa ditarik oleh pemilik kartu, meskipun sudah berulang kali dicek melalui ATM,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Pihak Bank BNI menyampaikan bahwa dana bantuan tersebut telah dikembalikan ke negara dengan alasan tidak diambil oleh penerima.

Tapi pernyataan tersebut justru menimbulkan tanda tanya besar, sebab pemilik kartu bansos mengaku secara rutin mengecek saldo dan tidak pernah menemukan dana masuk di rekeningnya.

Keanehan lain muncul setelah dalam rekening koran tercatat adanya pemindahan mutasi dana dari BNI ke Bank BRI, tepatnya ke BRI Kramatmulya. 

Hingga kini, pihak keluarga penerima bansos mengaku tidak pernah mendapat penjelasan rinci mengenai mekanisme, dasar, maupun kewenangan pemindahan dana tersebut.

“Ini yang membuat kecurigaan semakin besar. Kalau penerima rutin mengecek ATM tetapi saldo tidak pernah bertambah, lalu bagaimana bisa disebut tidak diambil?” kata Nuraeni dengan nada heran

Pihak keluarga juga mengungkapkan bahwa terdapat bukti cetak rekening koran resmi dari Bank BNI yang telah distempel, yang menunjukkan adanya transaksi penarikan dana bantuan. Padahal, pemilik kartu ATM bansos bersikeras tidak pernah melakukan penarikan dana tersebut.

Bahkan, menurut keluarga, petugas keamanan (security) Bank BNI menyarankan agar kasus ini dilaporkan ke pihak kepolisian, guna memastikan secara jelas siapa pihak yang telah menarik dana bantuan tersebut.

Kasus ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya potensi persoalan serupa yang dialami penerima bansos lainnya, namun tidak terungkap ke publik akibat minimnya informasi, keterbatasan akses, serta rendahnya pemahaman masyarakat terhadap mekanisme pengaduan.

Pihak keluarga berharap ada klarifikasi terbuka dan menyeluruh dari instansi terkait, baik dari bank penyalur maupun dinas sosial, agar hak penerima bantuan benar-benar tersalurkan sesuai ketentuan dan tidak merugikan masyarakat kecil.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Bank BNI, Bank BRI, maupun instansi pemerintah terkait mengenai detail alur pemindahan dana serta status penarikan dan pengembalian dana bantuan sosial tersebut.


(K-01)

Sekda Kuningan Diduga Tinggalkan Banyak Persoalan Anggaran Di Dinas Pendidikan

Desember 29, 2025

 


Kuningan-Skandal

Naiknya UU Kusmaana ke Kursi Sekertaris Daerah, diduga mewariskan persoalan di Dinas Pendidikan, instansi yang sebelumnya dirinya menjabat sebagai pimpinan.

Beberapa pegawai Dinas Pendidikan mengungkapkan hal tersebut kepada media ini. Mereka mengeluhkan, karena kebijakan Uu Kusmana, S.Sos, bidang bidang teknis menjadi kesulitan untuk pelaksanaan kegiatan.

“Bahkan untuk listrik saja sempat hampir tidak terbayar,” ungkap salah satu pegawai yang enggan disebutkan namanya.

Pegawai Disdik lainnya mengatakan, untuk program kegiatan tahun anggaran 2024 saja bahkan terpaksa ada yang tidak dilaksanakan. Padahal Ganti Uang (GU) dari BPKAD sudah cair.

Informasi lain kegiatan kemah SD dengan anggaran Rp100jt bahkan sampai tidak dilaksanakan. Selain itu uang MKKS yang rumornya dititipkan di Dinas Pendidikan tidak jelas keberadaannya.

Salah seorang pengamat kebijakan daerah yang nggan disebutkan namanya, juga mengatakan hal ini akan sangat bermasalah bagi Kepala Dinas definitif mendatang, karena dia harus membereskan masalah. Apalagi kalau ada pemeriksaan dari KPK. Kepala Dinas Pendidikan penggantinya bisa kena getahnya.

“Ini harus segera diselesaikan. Jangan Kuningan yang motto melesat malah jadi meleset,” tegasnya.

Bersambung..

(AI)

Ironis, Kekerasan Fisik Masih Warnai Kegiatan Ekstrakurikuler SMAN 3 Kuningan

Desember 24, 2025

 

Jenggo Ketua LMPI

Kuningan-SKANDAL

Ironis, kekerasan fisik masih mewarnai kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 3 Kuningan. Akibatnya salah seorang siswi jadi korban dan harus dirawat di Rumah Sakit. Selain itu korban juga kini mengalami trauma.

Adalah Nz siswa yang masuk kategori pencinta alam Candradimuka. Mulai minggu 21 Desember 2025, tepatnya pukul 11,dia mengikuti kegiatan di tempat bumi perkemahan lempong balong palutungan desa cisantana kab Kuningan.

NZ mengikuti kegiatan yg terhitung lima hari menjalani hidup di alam luas mempelajari kehidupan dengan alam yg hidup di hutan dan makan seadanya dengan makan seadanya di hutan.

Sayangnya, dalam kegiatan ektrakulikuler itu terjadi kekerasan kekerasan fisik. Dari pengakuan NZ setiap hari mengalami kekerasan dengan muka selalu di tamparin bahkan di penghujung kegiatan NZ tidak kuat lagi dalam berjalan kaki kaarena mengalami siksaan sampe di dorong tersungkur dengan keras.

Orang tua mengatakan, sepulang mengikuti kegiatan pecinta alam anaknya mengalami trauma yg bgtu hebat bahkan pisik tubuhnya lebam dan luka luka.

“Sangat tidak manusiawi dan di anggap kejam hal tersebut terjadi bukan terhadap NZ saja tapi dialami oleh semua siswa siswi SMA 3 KUNINGAN yg mengikuti kegiatan pecinta alam,” tuturnya.

Tak terima dengan perlakuan itu, orang tua siswi sudah melaporkan ke pihak kepolisian dengan dasar kekerasan di bawah umur.

Sementara itu, JENGGO ketua  LMPI mengecam dugaan kekerasan tersebut apa lagi terjadi di dunia pendidikan.

Menurunya dalam hal ini kepala sekolah SMA 3 Kuningan harus bertanggung jawab karena telah memberikan ijin untuk kegiatan yang meyita waktu sampe lima hari.

Pihak kepolisian diminta tegas untuk menindak sesuai regulasi aturan hukum yang ada karena ini sudah berlebihan sampai membuat anak di bawah umur shock dengan kejadian yg di alaminya 

Menurut JENGGO, sebagai organisasi yg lahir dan tumbuh dari elemen masyarakat kami siap membela masarakat demi untuk keadilan dan siap mengawal proses hukum sampai tuntas.

“kekerasan seperti ini jangan di biarkan tindak tegas semua pelakunya,” tegasnya.

Dalam hal ini Bupati juga harus turun tangan bila perlu gubernur KDM harus turun tangan kekerasan di bawah umur jangan sampe terjadi lagi di dunia pendidikan khususnya di Jawa Barat.

“Kalau tidak segera di tindak akan jadi pemicu hancurnya mental anak bangsa. Trauma itu sebuah momok menakutkan yg selalu ada dalam benak anak seumur hidupnya, prinsipnya segera tegakan hukum dan tindak tegas.


(Red)

Cari Tempat Nyaman Untuk Berlibur? Woodland Yang Paling Cocok

Desember 21, 2025

 


Kuningan - SKANDAL 

Masa libur sekolah dan natal tahun baru (Nataru), menjadikan obyek wisata Woodland yang terletak di Jalan Raya Ragasakti, Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, dipadati pengunjung dari berbagai daerah. Antrean panjang terlihat sejak pagi hari, dengan pengunjung antusias menikmati waktu luang bersama keluarga dan teman.

Harga tiket Woodland bervariasi tergantung hari dan musim. Pada hari kerja (weekday), tiket seharga Rp20.000 untuk anak dan dewasa, sedangkan pada akhir pekan, hari libur, dan tanggal merah dikenakan harga Rp25.000. Jelang libur Nataru, semua tiket (anak dan dewasa) juga ditetapkan sebesar Rp25.000, dengan batasan usia mulai dari 2 tahun.

Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, antara lain 8 kolam renang untuk anak dan dewasa. Selain itu, terdapat beberapa wahana baru seperti roller coaster, giant swing, keranjang terbang, flying fox, berkuda, dan panahan. Namun, yang masih menjadi primadona di kalangan pengunjung adalah wahana perosotan. 

Untuk kebutuhan ganti pakaian (toilet), tempat istirahat (gajebo), pengunjung bisa menggunakannya secara gratis. Keistimewaan lain, pengunjung diizinkan membawa makanan dari luar.

Owner Woodland Fery Wurangian melalui Manager Woodland, Zeni, menyatakan bahwa pihaknya sudah terbiasa melakukan persiapan matang jelang musim libur. 

"Seperti yang sudah dilakukan setiap tahun, untuk persiapan jelang Nataru kami sudah memasang rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan kenyamanan pengunjung. Selain itu pengawasan pun lebih di tingkatkan lagi," jelasnya, Minggu (21/12/2025).

Menurut Zeni, pengunjung tahun ini berasal dari berbagai wilayah, terutama Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan). 

"Ada juga dari Bandung, Bekasi, Karawang, Jakarta, Depok, Bogor, bahkan ada juga pengunjung dari Belanda dan Prancis yang kebetulan sedang berlibur di Kuningan dan berkunjung ke Woodland," tambahnya.

Putri (15), siswa MAN 2 Kuningan yang baru pertama kali mengunjungi Woodland, juga mengaku sangat terkesan. 

"Kesannya seru sekali, banyak wahananya yang asik. Apalagi naik perosotan, dan giant swing yang nguji adrenalin banget," ungkapnya dengan senang.

Selain Putri, beberapa pengunjung dari luar daerah juga menyampaikan kesan mereka. Rio (22) dari Bogor yang datang bersama teman-temannya mengungkap,

"Pertama kali ke Woodland, ternyata lebih seru dari yang dikira! Wahana baru kayak giant swing dan roller coaster bikin puas banget, apalagi harga tiketnya terjangkau," katanya.

 Sementara itu, Siti (35) dari Jakarta yang datang dengan keluarga mengatakan, 

"Tempatnya luas, fasilitas cukup lengkap, dan bisa bawa makanan dari luar jadi hemat. Cocok banget buat liburan bareng anak-anak," ujarnya dengan senang hati.


(ZUL)

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.